Kamis, Februari 19, 2009

Saat-Saat Kehilangan

Ia akan bersamamu
Selama angin berembus
Ia akan selalu di hatimu
Ia tidak meninggalkanmu sendirian
Ia hidup abadi
Rohnya selalu bersamamu
Dan jika matahari bersinar di langit
Dan hujan memenuhi udara
Dan pelangi menerangi harimu
Ketahuilah ia ada di sana

Sikap dan Sudut Pandang

Setiap pagi ketika membuka mata,aku berkata
kepada diri sendiri: "Aku, bukan peristiwa, mempunyai
kekuatan untuk membuatku bahagia atau
tidak bahagia hari ini. Aku bisa memilih
yang mana yang akan kurasakan. Kemarin sudah mati,
besok belum datang. Aku hanya punya satu hari,
hari ini, dan aku akan bahagia menjalaninya.

Rabu, Februari 18, 2009

Melewati Rintangan

Tersesat dalam depresi gelap
Tak tahu harus berpaling ke mana
Aku membuka jendela jiwaku
Untuk melihat apa yang bisa kupelajari
Kusapu depresi itu
Kusikat kesedihan dan luka
Kumasukkan semua ke dalam kantong sampah
Dan kuletakkan di tepi jalan
Kutemukan tersimpan di sudut
Ditaruh tinggi di atas rak
Sebuah peti harta karun berisi pengetahuan
Hingga aku bisa mencintai diri sendiri
Dan ke mana pun masa depan membawaku
Aku tahu aku akan menang
Karena aku membuka jendela jiwaku
Dan membiarkan sinar memancar masuk.

Penerapan Praktis

Si pria mengajarinya aritmatika,
Katanya itu adalah misinya,
Si pria menciumnya sekali, menciumnya dua kali dan berkata,
"Nah, itu namanya penjumlahan."
Dan saat si pria mengecupnya lagi dan lagi
Tanpa banyak ribut,
Si wanita balas menciumnya dengan manis dan berkata,
"Nah, itu tadi pengurangan."

Lalu si pria menciumnya, dan si wanita menciumnya,
Tanpa ada penjelasan,
Dan keduanya tersenyum dan berkata,
"Yang itu tadi perkalian."
Lalu muncul sang ayah menyaksikan kejadian itu dan
Segera mengambil keputusan,
Sang ayah menendang si pria itu tiga blok jauhnya
Dan berkata, "Nah, yang ini pembagian panjang!"

Selasa, Februari 17, 2009

Perpisahan

Hari itu dimulai pagi-pagi sekali
Suatu hari di bulan september
Dia berdiri menunggu disamping tempat tidurku
Beberapa saat sebelum fajar.
Bajunya rapi dan kaku dikanji.
Semua rencana telah disusun dengan cermat.
Dia tahu hari itu akhirnya tiba.
Dan dia tidak takut.
Aku juga tahu hari ini akan tiba
Enam tahun yang singkat telah berlalu.
Ketika kami pertama kali bertemu, aku memeluknya erat
Hatiku berbunga-bunga.
Sejak itu, setiap hari kusimpan sebagai kenangan manis
Hari-hari yang kami lewatkan bersama.
Tetapi waktu berlalu terlalu cepat
Secepat sehelai bulu burung.
Dan sekarang dia menunggu dengan tidak sabar,
Wajahnya penuh senyum, gembira karena akan pergi.
Perpisahan kami tidak membuatnya sedih
Atau membuat hatinya berduka.
Aku memeluknya erat-erat sekali lagi
Dan merasakan tubuhnya mengejang.
Kakinya yang gelisah, akhirnya bebas.
Lari melompat-lompat sepanjang jalan.
Sekilas menoleh ke belakang, lambaian yang tergesa
Dan segera dia hilang dari pandangan,
Dan aku berdiri sendirian
Untuk merasakan kesesakan di dada.
Aku sedih membayangkan
Hari-hari panjang seminggu ke depan,
Dan meski aku bersumpah aku takkan sedih,
Sebutir airmata meluncur menuruni pipiku.
Suamiku memelukku dan tersenyum padaku,
Sungguh aku tolol dan sentimental,
Tapi aku tahu, dia juga sedih,
Pada hari pertama anakku masuk sekolah.

Senin, Februari 16, 2009

Sang Milyuner

Suatu hari, sambil mengemudikan mobil pulang kantor
Kuhitung-hitung seluruh kekayaanku
Rumahku yang diagunkan,mobilku yang sudah tua
Tabungan yang jumlahnya tidak banyak
Perabotan yang mungkin
Setahun lagi sudah bobrok
Tv yang layarnya selebar prangko
Karpet yang sudah usang
Dua setelan yang tenunannya mulai jarang
"Sepatu segala acara" yang harusnya sudah diganti
Sedihnya, kemudian aku melihat masalahku
Setelah dua puluh tahun bekerja keras
Peti hartaku masih tetap kecil
Sambil memikirkan semua kekayaanku
Aku menyetir sambil melamun
Tahu-tahu rumah sudah dekat
"Ayah pulang" aku mendengar dia berseru
Enam pasang kaki berlari-lari
Dalam kerumunan tangan belepotan dan rambut ikal
Aku tahu, aku ini seorang milyunar!

Kamis, Februari 12, 2009

Apa Pun yang Terjadi

Aku ingat ketika setiap hari terasa panjang,
Saat dunia adalah taman bermain dan hidupku suatu dendang,
Dan tanpa peduli aku bergetaran melewati tahun,
Mengabaikan masa depan dan apa pun yang disana menunggu.

Sekolah itu menarik dan penuh kegembiraan.
Aku bermain saat siang hari dan bermimpi saat malam hari.
Orangtuaku meyakinkan diriku untuk tak takut pada apa pun,
Dan apa pun yang etrjadi, mereka akan selalu ada.

Hanya sedikit yang kuketahui tentang dunia di luar rumah,
Tempat tragedi, duka, dan pembunuhan merebak.
Yang kulihat hanyalah langit biru, bintang dan pelangi.
Aku abai perihal penghancuran gedung dan mobil.

Keluarga

Ketika monster bergentayangan di bawah

ranjangku.

Dan mimpi seram berkelebat di kepalaku,

Ketika guntur menggemuruhkan suara-suara yang

kutakuti,

Kau ada disana, ayahku.

Ketika lutut lecet membuatku menangis,

Saputangan lembut menyeka kering mata sedihku,

Membujukku setiap kali aku berupaya,Kau ada disana, ibuku.

Siapa yang memegang tanganku ketika aku takut,

Memakan permen yang seharusnya ia bagi,

Hal-hal yang kulakukan karena kutantang!

Kau ada disana, kakakku

Dalam kesulitan, saat aku membutuhkan,

Kurasakan kekuatan besar mengitariku,

Tanpa cinta siapa aku takkan berhasil,

Aku mencintai kalian semua, Keluargaku

Mewujudkan Impian

Kalau aku yang menentukan
Si miskin akan menjadi kaya
Dan orang buta bisa melihat
Yang lapar bisa makan
Dan yang lemah menjadi kuat
Dan orang-orang yang saling membenci akan hidup
damai
Yang serakah akan mulai berbagi
Dan orang-orang yang tak ramah akan mulai
memperhatikan
Yang haus akan minum
Dan orang tuli mendengar
Dan duka lara akan sirna
Dan dunia akan menjadi seperti itu

Kalau aku yang menentukan